1,297 research outputs found

    A Domain Analysis to Specify Design Defects and Generate Detection Algorithms

    Get PDF
    Quality experts often need to identify in software systems design defects, which are recurring design problems, that hinder development\ud and maintenance. Consequently, several defect detection approaches\ud and tools have been proposed in the literature. However, we are not\ud aware of any approach that defines and reifies the process of generating\ud detection algorithms from the existing textual descriptions of defects.\ud In this paper, we introduce an approach to automate the generation\ud of detection algorithms from specifications written using a domain-specific\ud language. The domain-specific is defined from a thorough domain analysis.\ud We specify several design defects, generate automatically detection\ud algorithms using templates, and validate the generated detection\ud algorithms in terms of precision and recall on Xerces v2.7.0, an\ud open-source object-oriented system

    Using FCA to Suggest Refactorings to Correct Design Defects

    Get PDF
    Design defects are poor design choices resulting in a hard-to- maintain software, hence their detection and correction are key steps of a\ud disciplined software process aimed at yielding high-quality software\ud artifacts. While modern structure- and metric-based techniques enable\ud precise detection of design defects, the correction of the discovered\ud defects, e.g., by means of refactorings, remains a manual, hence\ud error-prone, activity. As many of the refactorings amount to re-distributing\ud class members over a (possibly extended) set of classes, formal concept\ud analysis (FCA) has been successfully applied in the past as a formal\ud framework for refactoring exploration. Here we propose a novel approach\ud for defect removal in object-oriented programs that combines the\ud effectiveness of metrics with the theoretical strength of FCA. A\ud case study of a specific defect, the Blob, drawn from the\ud Azureus project illustrates our approach

    Evaluation of Kermeta for Solving Graph-based Problems

    Get PDF
    Kermeta is a meta-language for specifying the structure and behavior of graphs of interconnected objects called models. In this paper,\ud we show that Kermeta is relatively suitable for solving three graph-based\ud problems. First, Kermeta allows the specification of generic model\ud transformations such as refactorings that we apply to different metamodels\ud including Ecore, Java, and Uml. Second, we demonstrate the extensibility\ud of Kermeta to the formal language Alloy using an inter-language model\ud transformation. Kermeta uses Alloy to generate recommendations for\ud completing partially specified models. Third, we show that the Kermeta\ud compiler achieves better execution time and memory performance compared\ud to similar graph-based approaches using a common case study. The\ud three solutions proposed for those graph-based problems and their\ud evaluation with Kermeta according to the criteria of genericity,\ud extensibility, and performance are the main contribution of the paper.\ud Another contribution is the comparison of these solutions with those\ud proposed by other graph-based tools

    Multiculturalism, citizenship, and education in Morocco

    Get PDF
    Morocco has a long history of multiculturalism and language contact; however, this characteristic has become more prominent as a consequence of the expansion of education after independence. This paper investigates how multiculturalism and citizenship in Moroccan society impact on the system of education. It provides a framework that enriches the discussion of multiculturalism and citizenship by highlighting the role that education plays in the development and management of multiculturalism and citizenship. The paper discusses the interlocked phenomena of multiculturalism, citizenship, and education from an interdisciplinary standpoint, analysing and explaining the synchronic relationships between them. The educational system must address the linguistic and cultural diversity inherent in multicultural Morocco, from the human rights and intercultural learning perspectives. Its purpose is not to teach the role of multiculturalism in official curricula, but to construct an approach to intercultural learning that promotes citizenship, dialogue, mutual understanding, and living together. Such an approach differs from the monocultural approach still existent in many North African and Middle Eastern curricula.peer-reviewe

    Hubungan Rekabentuk Landskap Sekolah Dengan Pencapaian Prestasi Akademik Pelajar Sekolah Menengah Di Besut, Terengganu

    Get PDF
    Persekitaran pembelajaran adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi akademik pelajar. Persekitaran pembelajaran yang tidak selesa dan menjemukan biasanya melahirkan pelajar yang berpencapaian rendah. Oleh itu, tujuan kajian ini adalah untuk meninjau serta membandingkan persekitaran pembelajaran dan pencapaian prestasi akademi kpelajar sekolah menengah di Besut yang berbeza tahap pencapaian akademik. Peserta kajian terdiri daripada 300 orang pelajar merangkumi tiga tahap; biasa, sederhana dan baik dari tiga buah sekolah menengah di Daerah Besut. Soalan kaji selidik berasaskan penilaian visual diedarkan kepada pelajar berkenaan . Penganalisaan data melibatkan statistik deskriptif dimana peratusan, taburan kekerapan dan min setiap item telah digunakan untuk melihat indeks persepsi pelajar terhadap rekabentuk landskap sekolah berbanding dengan pencapaian prestasi akademik pelajar. Secara keseluruhannya dapatan menunjukkan bahawa persekitaran pembelajaran khususnya landskap sekolah mempunyai hubungan secara positif terhadap pencapaian prestasi akademi k pelajar. Terdapat perbezaan yang sighifikan d i antara pelajar biasa, sederhana dan baik dari segi pandangan mereka terhadap persekitaran sekolah. Hasil kajian ini j uga menunjukkan bahawa sekolah yang mempunyai persekitaran yang selesa dan menarik turut memberi kesan positif terhadap pencapaian prestasi akademi k pelajar. Dapatan kajian ini diharap dapat memberi implikasi kepada langkah-langkah yang boleh dilaksanakan oleh pihak-pihak berkaitan untuk membantu mewujudkan persekitaran pembelajaran yang selesa, menarik dan kondusif di sekolah

    Meningkatkan Hasil Belajar Siswa melalui Model Course Review Horay pada Materi Perubahan Sosial Budaya pada Masyarakat Siswa Kelas IX3 SMP Negeri 2 Limboto

    Full text link
    Tujuan penelitian adalah meningkatkan hasil belajar siswa melalui Model Course Review Horay dalam hal Perubahan Sosial Budaya di Masyarakat IX.3 Grade SMPN 2 Limboto ". Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Budaya Perubahan Sosial di Masyarakat melalui Model Course Review Horay. Penelitian tindakan kelas dilakukan pada semester II tahun akademik 2012/2013. Siswa yang dikenakan tindakan adalah siswa kelas IX.3 SMPN 2 Limboto, total 24 orang. Untuk mengamati proses pembelajaran menggunakan proses pembelajaran observasional lembar observasi untuk kegiatan guru dan lembar observasi untuk siswa, sedangkan evaluasi dilakukan secara tertulis dalam bentuk deskripsi tes. Evaluasi data yang diselenggarakan pada setiap akhir siklus tersebut. Data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif kemudian dijelaskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1 pertemuan 1 kegiatan belajar-mengajar di kelas untuk kegiatan guru dalam sangat baik kategori = 0, baik categor y = 42,85%, cukup = 57,14%, kurang = 0 dan pertemuan 2 sangat baik kategori = 0, kategori baik = 71,42%, cukup = 28,58%, kurang = 0, sedangkan untuk kegiatan mahasiswa di siklus 1 pertemuan 1 sangat baik kategori = 0, baik 90,90%, cukup = 9,10% dan kurang = 0% dan pertemuan 2 kategori sangat baik = 0, baik 54,55%, cukup = 45,45% dan kurang = 0%. 14 siswa lengkap atau nilai rata-rata 58,83 dari 69,8. Pada siklus kedua menunjukkan peningkatan yang kedua siklus 1 pertemuan kegiatan belajar mengajar di kelas untuk kegiatan guru dalam kategori sangat baik = 92,85%, kategori baik = 7,15%, cukup, kurang setiap 0% untuk siklus kedua dan pertemuan 2 sangat baik kategori = 100%, kategori baik, cukup dan kurang = 0% sedangkan untuk kegiatan siswa di siklus 2 pertemuan 1 kategori sangat baik = 90,90%, kategori baik 9,09%, cukup dan kurang masing-masing = 0% dan pertemuan 2 sangat baik kategori = 100%, kategori baik, cukup dan kurang masing-masing 0%. Demikian pula, hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan, pada siklus I siswa yang lulus studi 16, 69,56% dengan nilai rata-rata 73,7 dan siswa siklus II yang tuntas belajar 23 siswa atau 95,84% dengan nilai rata-rata 85,8. Dengan demikian, penggunaan Model Course Review Horay dalam proses pembelajaran dalam Perubahan Sosial Budaya di Masyarakat dapat meningkatkan siswa belajar siswa hasil IX.2 kelas SMPN 2 Limboto 2012-2013 Tahun Akademik

    Analisis Kualitas Pelayanan dan Fasilitas terhadap Kepuasan Konsumen pada Hotel Yuta di Kota Manado

    Full text link
    Era global sekarang ini, dalam dunia bisnis terjadi persaingan yang ketat, apalagi Perusahaan dalam bidang jasa perhotelan. Hotel adalah suatu Perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus. Kualitas pelayanan dan fasilitas saat ini, lebih dipentingkan dalam dunia bisnis karena diduga berpengaruh terhadap kepuasan konsumen, dan juga akan memperhitungkan persaingan yang timbul dari berbagai jasa perhotelan. Fasilitas yang digunakan oleh setiap Perusahaan bermacam-macam bentuk, jenis dan manfaatnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan dan fasilitas terhadap kepuasan konsumen pada Hotel Yuta di kota Manado. Populasi adalah para tamu yang menginap. Sampel penelitian sebanyak 100 responden. Metode penelitian asosiatif, dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan kualitas pelayanan dan fasilitas berpengaruh terhadap kepuasan konsumen. Manajemen Hotel Yuta sebaiknya meningkatkan kepuasan konsumen seperti memperhatikan kualitas pelayanan yang lebih baik, dan memberikan fasilitas yang terjangkau agar konsumen akan kembali menginap. Kata kunci: kualitas pelayanan, fasilitas, kepuasan konsume

    From a Domain Analysis to the Specification and Detection of Code and Design Smells

    Get PDF
    Code and design smells are recurring design problems in software systems that must be identified to avoid their possible negative consequences\ud on development and maintenance. Consequently, several smell detection\ud approaches and tools have been proposed in the literature. However,\ud so far, they allow the detection of predefined smells but the detection\ud of new smells or smells adapted to the context of the analysed systems\ud is possible only by implementing new detection algorithms manually.\ud Moreover, previous approaches do not explain the transition from\ud specifications of smells to their detection. Finally, the validation\ud of the existing approaches and tools has been limited on few proprietary\ud systems and on a reduced number of smells. In this paper, we introduce\ud an approach to automate the generation of detection algorithms from\ud specifications written using a domain-specific language. This language\ud is defined from a thorough domain analysis. It allows the specification\ud of smells using high-level domain-related abstractions. It allows\ud the adaptation of the specifications of smells to the context of\ud the analysed systems.We specify 10 smells, generate automatically\ud their detection algorithms using templates, and validate the algorithms\ud in terms of precision and recall on Xerces v2.7.0 and GanttProject\ud v1.10.2, two open-source object-oriented systems.We also compare\ud the detection results with those of a previous approach, iPlasma
    corecore