8,718 research outputs found

    Barge Transport of Illinois River Sediment from Peoria to Chicago

    Get PDF
    A barge load of sediment excavated by clamshell from Lower Peoria Lake was shipped to Chicago, Ill. It was loaded onto trucks with a large excavator and placed at a conservation area and the Paxton I landfill reclamation site (Figures 1 and 2). The material handled well and maintained its consistency in the barge and after placing. It readily dumped from the trucks and formed piles about 2.5 feet high. The demonstration showed that this material can be transported and handled with conventional equipment and placed on fields without the necessity of using engineered containment structures

    The voice in the wilderness

    Get PDF
    Historical series, 16. Sermon preached on the second Sunday at the Christ Lutheran Church, Vancouver, British Columbia, Advent 2003. Lk 3:1-6

    Order Invariance on Decomposable Structures

    Full text link
    Order-invariant formulas access an ordering on a structure's universe, but the model relation is independent of the used ordering. Order invariance is frequently used for logic-based approaches in computer science. Order-invariant formulas capture unordered problems of complexity classes and they model the independence of the answer to a database query from low-level aspects of databases. We study the expressive power of order-invariant monadic second-order (MSO) and first-order (FO) logic on restricted classes of structures that admit certain forms of tree decompositions (not necessarily of bounded width). While order-invariant MSO is more expressive than MSO and, even, CMSO (MSO with modulo-counting predicates), we show that order-invariant MSO and CMSO are equally expressive on graphs of bounded tree width and on planar graphs. This extends an earlier result for trees due to Courcelle. Moreover, we show that all properties definable in order-invariant FO are also definable in MSO on these classes. These results are applications of a theorem that shows how to lift up definability results for order-invariant logics from the bags of a graph's tree decomposition to the graph itself.Comment: Accepted for LICS 201

    Church conflict: from contention to collaboration

    Get PDF
    Title: Church conflict: from contention to collaboration. Author: Everist, Norma Cook Church conflict 158 p. Publisher: Nashville : Abingdon Pr, 2004

    Honour for shame

    Get PDF
    Historical series, 7. Sermon delivered at Christ Lutheran Church, Vancouver, 7 N 2004 (All Saints Sunday). Luke 6: 17-26

    PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI PEMBIBITAN UTAMA AKIBAT PERBEDAAN KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK PELENGKAP CAIR

    Get PDF
    Kelapa sawit merupakan tanaman dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Bagi Indonesia, kelapa sawit memiliki arti penting karena mampu menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan sebagai sumber perolehan devisa negara. Permintaan kelapa sawit yang meningkat menyebabkan produksi dan perluasan areal pertanaman kelapa sawit semakin meningkat. Dengan bertambahnya luas areal pertanaman kelapa sawit tersebut maka diperlukan pengadaan bibit dalam jumlah besar dan berkualitas. Pembibitan merupakan salah satu faktor penentu budidaya kelapa sawit. Pembibitan kelapa sawit merupakan langkah permulaan yang sangat menentukan keberhasilan penanaman di lapangan. Untuk itu perlu dilakukan suatu teknik budidaya yang mampu menghasilkan bibit yang berkualitas, salah satunya melalui pemupukan di pembibitan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi yang optimal dan mendapatkan frekuensi pemberian pupuk pelengkap cair yang terbaik pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2006 di lahan Stasiun Percobaan Pertanian Universitas Bengkulu Desa Tanjung Terdana Kecamatan Pondok Kelapa Bengkulu Utara dengan ketinggian tempat ± 20 m dpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor, faktor pertama adalah Faktor pertama yakni konsentrasi pupuk Plant Catalyst 2006 (K) terdiri 4 taraf yaitu K0 (kontrol) = 0 g/l, K1 = 1,5 g/l, K2 = 3 g/l, K3 = 4,5 g/l. Faktor kedua adalah frekuensi pemberian (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu P1 = 5 hari sekali, P2 = 10 hari sekali, P3 = 15 hari sekali. Dari kedua perlakuan terdapat 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan sehingga diperoleh 36 unit percobaan dan masing-masing kombinasi perlakuan terdiri dari 4 tanaman, sehingga didapatkan 144 tanaman. Variabel yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah pelepah daun, tingkat kehijauan daun, dan kepadatan stomata. Hasil penelitian dianalisis dengan analisis varians 5% dan di lanjutkan dengan uji lanjut Polinomial Orthogonal dan DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara pemberian konsentrasi dan frekuensi pemberian pupuk pelengkap cair Plant Catalyst terhadap variabel pertambahan tinggi bibit. Pertambahan tinggi bibit tertinggi sebesar 19,39 cm pada konsentrasi pupuk pelengkap cair optimum 2,6 g/l dengan frekuensi 15 hari sekali. Pemberian konsentrasi secara faktor tunggal berpengaruh nyata pada variabel pertambahan diameter batang dan pertambahan jumlah pelepah daun. Setiap penambahan 1 g/l konsentrasi pupuk pelengkap cair akan diikuti berkurangnya pertambahan diameter batang rata-rata sebesar 0,132 mm. Pertambahan jumlah pelepah daun terbanyak 11 pelepah dengan konsentrasi optimum 2,5 g/l. Pada perlakuan pemberian frekuensi pupuk pelengkap cair secara tunggal memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada variabel tingkat kehijauan daun, pemberian frekuensi 5 hari sekali sebanyak 20 kali menghasilkan tingkat kehijauan daun tertinggi dengan nilai rata-rata 44,12 dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan frekuensi 10 hari sekali dan 15 hari sekali
    corecore